123 Street, NYC, US 0123456789 info@example.com

Bukit Es Terbesar Dunia Terus Melungsur, Berpotensi Ancam Habitat Penguin

Update

Bukit Es Terbesar Dunia Terus Melungsur, Berpotensi Ancam Habitat Penguin

JAKARTA Gunung es raksasa terbesar dunia telah lepas dan melayang dibanding pantai Antartika menuju ke utara sejak 2017 lalu.

Meski tepiannya sudah hancur, gunung es bernama A-68a ini masih terus meluncur pulau suaka margasatwa di Samudera Atlantik Selatan. Kejadian ini berpotensi mengancam habitat penguin.

Royal Tirta Force (RAF) Inggris melalui rekaman udara, mencoba mengungkap kemungkinan dengan akan terjadi pada pulau tersebut di masa mendatang.

Gunung es A-68a berukuran sekitar 2. 000 mil persegi atau 5. 100 kilometer persegi. Dinding gunung es ini, curam yang menjulang sekitar 30 meter. Tidak hanya itu, di dalamnya pula terdapat terowongan, celah, dan gua.

Baca Juga:   Gunung Es Terbesar dalam Dunia Berpotensi Tabrak Wilayah Inggris

Menurut informasi RAF, bongkahan es yang benar besar dapat meninggalkan jejak reruntuk yang berpotensi menghalangi lalu lin kapal di masa yang bakal datang. Namun, yang menjadi pokok utama peneliti adalah seberapa di dalam gunung es itu mencelup ke bawah permukaan laut.

Baca Juga:   Bukit Es Besar Hancurkan Lapisan Es Antartika

Dilansir dari Live Science pada Senin (14/12/2020), ketika A-68a memisahkan muncul dari Larsen C Ice Shelf tiga tahun lalu, titik paling bawahnya diukur lebih dari 200 meter di bawah permukaan laut. Gunung es ini kemungkinan telah menyusut secara vertikal maupun horizontal sejak saat itu.

Kedalaman gunung es penting untuk diktahui saat mencapai Georgia Daksina. Wilayah ini dihuni oleh jutaan penguin, anjing laut, burung laut, dan paus yang bermigrasi. Jika A-68a mendarat di dasar laut dekat pantai Georgia Selatan, ini akan membuat penghalang besar jarang hewan dan tempat makan itu.

“Jarak yang faktual ditempuh hewan untuk menemukan makanannya sangat penting. Jika mereka mengambil jalan memutar jauh, itu artinya mereka tidak akan kembali ke tempat semulanya untuk mencegah itu mati kelaparan sementara waktu, ” kata ahli ekologi dari British Antarctic Society, Geraint Tarling.

(saz)