123 Street, NYC, US 0123456789 info@example.com

Update

Indonesia Bangun Pusat Roket, Morotai dan Biak Jadi Lokasi

RUPANYA Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah membangun bandar antariksa atau pusat berpandu Indonesia. Pilihan lokasinya yaitu di Pulau Morotai dan Pulau Biak, karena ke-2 daerah tersebut yang memenuhi berbagai persyaratan untuk dibangun bandar antariksa.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menjelaskan, urgensi pendirian bandar antariksa di Indonesia, karena Indonesia merupakan negeri besar, secara geografis Nusantara membutuhkan media komunikasi berbasis satelit karena Indonesia negeri kepulauan, dan tentu dibutuhkan teknologi keantariksaan untuk membentuk hal tersebut, karena Nusantara memiliki pasar yang gede terkait hal itu.

roket

“Kemudian untuk menciptakan biji ekonomi dari kegiatan keantariksaan, khususnya terkait peluncuran peluru, saat ini juga pantas tumbuh tren pasar planet baik yang berukuran nano, maupun mikro dengan bervariasi kebutuhan termasuk untuk remote sencing, pemetaan dan sebagainya, ” kata Laksana dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR secara Kepala BRIN di Pelik Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (14/9/2021).

Kemudian, Laksana melanjutkan, keunggulan Nusantara yang berada dekat besot khatulistiwa menjadikan Indonesia sebagai lokasi strategis untuk peluncuran satelit, karena memiliki gravitasi yang rendah.

Dan secara regulasi, bertemu dengan amanat Undang-Undang No. 21/2013 tentang Keantariksaan bahwa kegiatan peluncuran satelit tersebut memang dari Indonesia, dan sesuai Perpres No. 49/2017 tentang Rencana Keantariksaan, menyembunyikan persiapan bandar antariksa rasio kecil.

“Untuk persiapan pembangunan antariksa ini, telah dilakukan perencanaan di 3 tahap, yaitu periode 5 tahun pertama, tahap 10 tahun dan periode 25 tahun, ” paparnya.

Menurut Bak, bandar antariksa di dunia saat ini ada kaum, tapi yang untuk daerah khatulistiwa itu memang tak banyak, sehingga, pihaknya ingin mengejar keuntungan geografis dengan dimiliki untuk menjadi institusi antariksa bisa menjadi tengah peluncuran secara global untuk berbagai negara lain.

Secara umum, tempat menjelaskan, ada beberapa persyaratan pemilihan lokasi untuk ditetapkan sebagai bandar antariksa. Dalam antaranya, lokasi sebisa barangkali berada pada daerah dengan dekat dengan khatulistiwa; tempat sebaiknya menghadap ke laut bebas, sehingga ada tempat kosong menuju ke laut dan sejauh mungkin lantaran wilayah yang memiliki warga yang sangat padat. Drop zone tabung roket bisa jatuh di laut terhindar; kondisi iklim dan iklim yang mendukung untuk peluncuran.

Kemudian, sambung Laksana, tidak ada perkara dengan status pertanahan, harus clean and clear jadi bandar antariksa; lokasi sebisa mungkin berada pada ketinggian yang memadai sehingga luput dari air pasang, sebab berada di pinggir bahar juga harus bebas daripada tsunami dan tanahnya lulus keras, biasanya dari desa karang; lokasi bandar antariksa memiliki potensi seminimal jadi terhadap petaka seperti gempa bumi dan lain sebagainya.

“Sebisa mungkin bandar antariksa dipilih lokasinya yang bisa diperoleh secara cepat tanpa banyaknya permasalahan dan juga terdapat kali yang dekat dengan kedudukan peluncuran, ada akses transportasi yang cukup memadai sehingga bisa mempermudah pada saat dibutuhkan logistik dan pergeseran manusia, ” urainya.

“Tentu ada sokongan infrastruktur terkait utulitas, air tawar, listrik dan hubungan, sebisa mungkin jauh dari lokasi para nelayan yang beraktivitas di lepas pantai. Perlu menjamin keselamatan, zaman peluncuran ada potensi dropzone roket, jauh dari lokasi penerbangan komersial dan tegangan tinggi, ” sambung Bagaikan.

Oleh sebab itu, kata Laksana, dengan mempertimbangkan yang nanti hendak ia sampaikan bahwa dengan memenuhi kriteria tersebut merupakan Pulau Morotai dan Pulau Biak.

“Secara umum ada dua pengikut utama yang dipilih bersandarkan aspek tersebut, ada tanah Morotai dan pulau Tumbuh, ” ujar Laksana.

(DRM)