123 Street, NYC, US 0123456789 info@example.com

Update

Kenali Berbagai Modus Penipuan Online, Simak Yuk!

DIREKTUR Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, Semuel A. Pangerapan mengimbau masyarakat waspada dengan mengenali modus pelaku penipuan online serta membiasakan diri melindungi data karakter.

“Kominfo menodong masyarakat untuk mewaspadai ragam modus penipuan online dengan biasanya terjadi di bagian digital, seperti phising, pharming, sniffing, money mule, serta social engineering, ” ujar pria yang akrab disapa Sammy itu, dikutip lantaran keterangan pers, Jumat (20/8/2021).

  penipuan online

Ia membaca, untuk modus penipuan berupa phising dilakukan oleh oknum yang mengaku dari institusi resmi dengan menggunakan telepon, email atau pesan teks.

Mereka seperti dari lembaga resmi, namun sebetulnya hanya ingin menggali agar korban memberikan data-data pribadi. Para penjahat siber biasanya menanyakan data-data sensitif untuk mengakses akun istimewa yang mengakibatkan pencurian nama hingga kerugian.

“Oleh karena itu, semasa mengalami hal ini, asosiasi harus teliti membaca secara benar dan melihat dengan seksama isi dari SMS maupun email apakah betul pengirimnya berasal dari pranata asli, ” paparnya.

Modus kedua merupakan phraming handphone, yakni penipuan dengan modus mengarahkan mangsanya kepada situs web palsu dimana entri domain name system yang ditekan ataupun di-click korban akan tersimpan dalam bentuk cache.

Kasus seperti ini banyak terjadi umpamanya tersedia yang whatsapp-nya disadap ataupun diambil alih karena ponsel sudah dipasangkan malware sebab pelaku sehingga data-data pribadinya dicuri.

“Contohnya, pembuatan domain seolah-olah mendekati dengan asal institusi dari yang aslinya. Pelaku akan menaruh atau memasang malware supaya nantinya bisa mengksesnya secara ilegal, ” tuturnya.

Modus kemudian adalah sniffing. Menurutnya, secara modus itu, oknum karakter akan meretas untuk mengerahkan informasi secara ilegal menggunakan jaringan yang ada di dalam perangkat korbannya dan mengakses aplikasi yang menyimpan keterangan penting pengguna.

“Sniffing ini paling banyak terjadi bahayanya kalau kita menggunakan atau mengakses wifi umum yang ada pada publik, apalagi digunakannya untuk bertansaksi. Ini bahaya, sebab sniffing itu kan lazimnya terjadi di jaringan dengan umum diakses publik, di situlah pelaku memanfaatkannya, ”jelasnya.

Modus keempat, yakni money mule. Sammy menjelaskan, penipuan jenis itu misalnya ada oknum yang meminta korbannya untuk menerima sejumlah uang ke bon untuk nantinya ditransfer ke rekening orang lain.

Di Indonesia sendiri, biasanya pelaku akan menodong calon korban untuk pembayaran pajaknya dikirim terlebih awal.

Money mule ini biasanya ditanyakan karakter dengan calon korban, maukah dapat hadiah atau pajaknya dikirim dulu. Jadi, saat ini masyarakat perlu berhati-hati karena money mule ini digunakan untuk money laundry ataupun pencucian uang.

“Kamu akan saya memindahkan uang, tapi harus memindahkan balik ke rekening itu. Jadi, ini juga marak dan perlu kita waspadai, ” terang Sammy.

Modus terakhir adalah social engineering. Ia menegaskan modus ini perlu diwaspadai sebab pelaku memanipulasi mental korban hingga tidak ingat memberikan informasi penting dan sensitif yang dimiliki.

“Pelaku mengambil isyarat OTP atau password karena sudah memahami behavior targetnya. Dengan kata lain, bangsa seringkali tidak sadar seringkali membagikan data-data yang seharusnya perlu dijaga. ” pungkasnya.

(DRM)