123 Street, NYC, US 0123456789 info@example.com

Update

Nusantara Diminta Lebih Fokus pada Keamanan Siber

INDONESIA perlu fokus di segmentasi dan jenis teknologi yang mengarah pada coding, keamanan siber, media sosial, dan berinternet dengan tenang, nyaman, dan produktif. Situasi ini diungkapkan oleh Pengkritik Teknologi Informasi dan Komunikasi dari CISSRec, Pratama Persadha.

“Permasalahan kejelekan siber yang kompleks seharusnya bisa ditangani secara sistematis dan terstruktur yang membabitkan semua peran masyarakat, elok itu pemerintah sebagai penyelenggara negara dan kepedulian sebab masyarakatnya sendiri yang mempunyai atas keamanan negara, ” katanya.

  kejahatan siber

Seperti dilansir dari Antara, saat tersebut Indonesia telah melakukan berbagai upaya pencegahan hingga penanggulangan kejahatan siber, di antaranya dengan membuat Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP), Rancangan Undang-Undang Ketahanan dan Keaman Siber (RUU KKS), edukasi masyarakat, pemblokiran situs-situs terlarang, hingga penguatan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Namun, Pratama menilai pemahaman pemerintah dan swasta pada Indonesia terhadap dunia digital masih belum maksimal dan hukum pada ranah siber masih belum jelas.

Pratama lalu mengusulkan agar RUU PDP lekas diselesaikan dalam waktu depan agar bisa melindungi keterangan masyarakat Indonesia yang juga dihimpun di luar negeri.

“Kita kudu mengebut RUU ini memikirkan situasi saat ini memaksa semua sektor melakukan digitalisasi yang berimbas pada penyatuan data pribadi yang menyusun tajam. Tanpa perlindungan dengan kuat dan jelas, mau merugikan masyarakat dan pula perekonomian nasional, ” perkataan Pratama.

Pratama berharap, UU PDP bisa memberikan mandat dan perintah agar negara dapat bertambah serius mengedukasi masyarakat. Selain menambah kewaspadaan siber, menurutnya, UU PDP juga bisa meningkatkan riset, kualitas SDM, dan industri keamanan siber Negeri.

Kemudian, Pratama menilai bahwa zaman ini negara juga masih belum melakukan edukasi dengan maksimal kepada masyarakat terpaut keamanan di dunia digital.

“Masuk kurikulum pendidikan juga tidak, jadi minim edukasi sejak dini dari negara, orang usang, sekolah, dan lingkungan kira-kira, ” tutur Pratama.

Menurut Pratama, negara perlu mendorong edukasi berinternet yang sehat dan aman melalui kurikulum pendidikan pada segala tingkat.

“Langkah paling ideal yakni edukasi di segala level wajib digalakkan. Minimal menyelami ancaman saat berinternet laksana phising yang sudah banyak memakai korban, ” katanya.

(DRM)