123 Street, NYC, US 0123456789 info@example.com

Sarjana Pelajari Atmosfer Planet Kerdil 'Pluto'

Update

Sarjana Pelajari Atmosfer Planet Kerdil ‘Pluto’

JAKARTA – Satelit kerdil bukanlah bebatuan mati dalam tepi Tata Surya, tetapi objek aktif secara geologis dengan atmosfer tipis. Ini terlihat dengan seluruh kemegahannya pada tahun 2015 oleh penerbangan NASA New Horizons. Khususnya, atmosfer Pluto telah memukau para-para astronom.

Para peneliti bertanya-tanya apakah atmosfer tersebut permanen atau berubah seiring musim saat planet mengorbit Matahari. Studi lama mengansumsikan bahwa ketika Pluto mendekati Matahari, es di satelit katai berubah menjadi gas dan ketika bergerak lebih jauh, itu mengembun dan membeku sekali sedang.

Baca juga: Masya Allah, Tanda-Tanda Kiamat Dijelaskan di dalam Alquran dan Sains

Melansir dari IFLScience , studi baru dengan diterbitkan di Icarus menunjukkan kalau kenyataannya tidak demikian. Dengan memakai Observatorium Stratosfer untuk Astronomi Inframerah, atau SOFIA, para peneliti mengkaji atmosfer selama okultasi bintang.

Ketika Pluto lewat di depan sebuah bintang, SOFIA menggunakan cahaya bintang tersebut untuk mempelajari atmosfer. Pengamatan dibanding SOFIA ini dilakukan hanya kurang minggu sebelum penerbangan luar biasa New Horizons di Pluto.

Orbit Pluto jauh lebih berbentuk telur daripada Bumi, dalam perjalanannya selama 248 tarikh mengelilingi Matahari, ia menghabiskan 20 tahun lebih dekat ke Matahari daripada Neptunus. Ini terakhir berlaku antara 1979 dan 1999, oleh sebab itu sekarang bergerak ke orbit dengan lebih dingin dan lebih jauh, setidaknya untuk saat ini boleh atmosfer tidak terpengaruh.

Penulis utama Michael Jiwa, direktur Wallace Astrophysical Observatory sejak Massachusetts Institute of Technology, mengutarakan bahwa ada petunjuk dalam pemantauan jarak jauh sebelumnya bahwa agak-agak ada kabut asap, tetapi sedang belum ada konfirmasi hingga datanya memang ada dari SOFIA.

Person juga memasukkan, atmosfer Pluto mungkin akan hancur lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya, atau mungkin bahkan tidak sama sekali runtuh.

Untuk mengetahuinya, peneliti masih kudu terus memantaunya. Kabut atmosfer terdiri dari partikel-partikel kecil dengan ketebalan sekitar 0, 06-0, 10 mikron, sekitar 1. 000 kali lebih kecil dari rambut manusia, jadi memberikan nuansa biru puitis di atmosfer Pluto.

(ahl)

Loading…